10. Al-QUR’AN DAN PERTANIAN : ALQUR’AN BUKAN BUKU SAINS
Alhamdulillah dewasa ini, banyak ilmuwan muslim atau pun para pelajar yang mendapati sains yang bersesuaian dengan Al-Qur’an. Namun yang disayangkan sebagian mereka dan juga sebagian kaum muslimin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai acuan sains. Padahal Al-Qur’an bukan kitab sains.
Tidak terkecuali dalam bidang pertanian. Mereka yang menyatakan bahwa banyak tumbuhan dan buah-buahan yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an , bahkan sebagiannya dijadikan sebagai sarana bersumpah Alloh. Diketahui bahwa tumbuhan dan buah-buahan itu menyimpan berbagai keajaiban, baik keajaiban penciptaan maupun keajaiban manfaatnya. Para ahli mengungkap misteri yang melingkupi semua itu, yang sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan informasi apapun secara serampangan dan tanpa makna. Mereka menyebutkan keajaiban ilmiah dalam desain penanaman anggur, keajaiban biji-bijian dalam dalam Al-Qur’an, keajaiban ilmiah ladang pertanian dalam Al-Qur’an, sistem pertanian model janan Al-Qur’an, Al-Qur’an dan tumbuhan bersaksi atas keadilan sahabat dan sebagainya. Alhamdulillah…
Akan tetapi, ketahuilah bahwa Al-Qur’an bukan lah buku sains, bukan pula kumpulan ensiklopedia ilmu pengetahuan alam. Meskipun memang dalam al-Qur’an membicarakan alam semesta, menerangkan tentang mahluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan.
Akan tetapi hakikat Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk manusia, Alloh Azza wa jalla berfirman:
“Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (AlBaqoroh :185)
Kalau bertepatan ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an tentu bukanlah maksud Al-Qur’an ingin mengajarkan manusia tentang sains dan ilmu pengetahuan.
Akan tetapi Al-Qur’an ingin menjelaskan kebenaran risalalah nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, menjelaskan beliau sebagai nabi dan rosul, menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau adalah kalamulloh, wahyu dari Alloh subhanahu wa ta’alla, menunjukkan Al-Qur’an bukan perkataan manusia.
Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam tidak tahu ilmu sains yang baru ditemukan sekarang yaitu pada abad ke-21 ini.
Bersambung…




Sukran Atas Tausiah nya,…
Inysa Allah kedepan Pertanian Kita, menjadi Petranian yang Islami.
Amin……………
Wassallam
Menurutku, Al-Quran memang bukan buku sains. Tapi di dalamnya memberi petunjuk (bagi yang beriman dan bahkan kepada seluruh manusia) tentang berbagai ilmu pengetahuan baik yang selama ini telah terbuktikan maupun belum. Al-quran adalah kitab terakhir yang senantiasa terjaga oleh Yang Maha Membuat-nya, tentu akan berlaku sepanjang jaman (fleksibel dan bersesuaian dengan perkembangan sains). Adakah kitab lain seperti ini ?
Suatu petunjuk akan memberikan efek lahirnya inspirasi untuk lebih mendalami apa yang tersirat dari petunjuk itu, tentu bagi orang-orang yang ingin memahaminya. Dan Al-Quran, demikian luas tak terbatas …… untuk dipelajari dan pahami (tidak sekedar dibaca) sepanjang dunia terkembang ….bagi kepentingan hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia yang tidak dapat terlepas dengan alam sekitarnya. Kedua-duanya penuh dengan rahasia sehingga perlu proses dalam penerapannya. Jika ada ketidak-sesuaian, bukan salah Al-Quran … tapi kita yang belum nyambung.
Ilmu pengetahuan dapat bersumber dari kita pribadi dan alam sekitar, bahkan dari ilmu pengetahuan itu sendiri (termasuk filsafat) hingga ilmunya juga tidak mampu menjangkau. Kemana lagi larinya ??? (bagi kita yang beriman tentu akan bersimpuh pada Allah SWT dengan segala Kebesaran-Nya sembari mengakui kebenaran wahyu-Nya).
Atau ilmu pengetahuan dapat bersumber dari petunjuk Allah SWT dalam Al-Quran, sehingga dilakukan pengkajian, penelitian dan seterusnya ….
Secara harfiah mungkin tidak tepat Al-Quran di letakkan dalam rentetan DAFTAR PUSTAKA suatu karya ilmiah. Tapi Al-Quran adalah acuan yang kebenarannya MUTLAK bagi seluruh ilmu pengetahuan …
Bukannya definisi saint saat ini yang perlu ditinjau ulang?
Bukannya keseimbangan implementasi dalil nakli dan dalil akli lebih berkah (rahmatan lil alamin)?
Bukannya semua makhluk langit dan bumi adalah kitabullah (sunatullah) dan Al-Quran adalah kitabullah yang diwahyukan kepada rosullullah?