Skip to content

44. KISAH PETANI YANG DIBERKAHI ALLOH AZZA WA JALLA

22 Juni 2007

Sesungguhnya alam semesta ini milik Alloh azza wa jalla. Alloh adalah pencipta dan pengatur alam semsesta. Jika sesorang  hamba berjalan lurus dengan mengamalkan ajaran agama yang merupakan perintah Alloh, maka Alloh akan memerintahkan alam agar menjaganya dan dan melakukan sesuatu yang mengandung kebaikan dan kemaslahatannya

Dalam kisah ini akan dijelaskan tentang seorang petani sholih dimana Alloh memerintahkan awan untuk menyiram kebunnya, karena petani ini lurus menjalankan perintah Alloh. Dan siapa pun juga bisa mendapat penjagaan dari Alloh apabila orang tersebut benar-benar istiqomah menjalankan ajaran agama Alloh.

Kisah  tentang seorang petani yang shalih ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu dari nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair  dan sunyi, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’ maka awan itu menepi (menjauh) lalu menumpahkankan airnya di tanah dengan bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air yang telah dipenuhi dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) jalannya air tersebut.  Ternyata ada seorang laki-laki yang sedang berada di kebunnya, dia sedang mengalirkan air dengan menggunakan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, ‘Wahai hamba Alloh, siapakah nama anda?’ dia menjawab, ‘Fulan.’ Sebuah nama yang didengar dari suara di awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, ‘Mengapa anda menanyakan namaku?’ dia menjawab, ‘Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘Siramilah kebun si fulan!’ yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan?.’ Dia menjawab, ‘Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (untuk ditanam kembali).”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).”

Dalam hadits di atas, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dan mengisahkan tentang kisah orang-orang terdahulu, yaitu pada zaman sebelum datangnya risalah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ada pun dalam hal ini, sikap kita adalah membenarkan kisah dalam hadits di atas karena hadits tersebut shahih datangnya dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.  Kisah dalam hadits tersebut memang menakjubkan, dimana diceritakan ada seorang yang sedang menempuh perjalanan di sebuah padang pasir yang sunyi, kemudian dia mendengar suara dari awan (mendung) yang merupakan suara dari malaikat yang mengurusi awan (hujan).“Siramilah kebun si fulan.”.

Suara itu membuat laki-laki itu penasaran dan mengikuti awan tersebut. Dia ingin mengetahui siapa laki-laki yang namanya disebut dalam suara itu. Ternyata awan itu menurunkan hujannya disebuah tanah dengan yang berupa bebatuan hitam. Dia memperhatikan hujan itu akhirnya membentuk selokan yang mengalirkan air menuju arah tertentu. Laki-laki itu pun mengikuti dan menyusuri aliran air hujan tersebut. Dia melihatnya aliran air itu bermuara di sebuah kebun. Dia melihat di kebun itu ada seorang laki-laki yang sedang  mengairi kebunnya dengan menggunakan cangkul keseluruh penjuru kebunnya. Dia pun menghampiri laki-laki pemilik kebun untuk menanyakan namanya, ternyata nama orang tersebut adalah nama yang ia dengar dari awan yang disebut oleh malaikat. Dia merasa takjub dengan kejadian ini dan penasaran dengan orang tersebut sehingga dia menanyakan tentang apa saja yang telah dilakukan oleh petani tersebut. Pastilah ada perbuatan yang istimewa sehingga dia mendapat karomah dari Alloh subhanahu wa ta’ala yaitu turunnya air dari awan yang khusus mengairi kebun petani tersebut. Kalau yang biasa terjadi adalah hujan turun membasahi semua kebun atau daerah yang ada tetapi dalam hadits ini hujan atau air khusus mengairi kebun petani tersebut, ini adalah suatu hal yang menakjubkan. Untuk menghilangkan rasa penasarannya maka dia bertanya kepada petani tersebut tentang apa yang dilakukannya dalam bertani sehingga diberi kemudahan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Sampai-sampai diberi air secara khusus. Dengan keikhlasan dan kerendahan hati (tawadhu’) dalam bekerja dan beramal shalih (sebenarnya dia enggan menceritakan amal perbuatannya tetapi setelah diminta dan melihat adanya manfaat menceritakan amalnya). Kemudian petani itu menceritakan bahwasanya hasil panennya dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga yang pertama dialokasikan untuk disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan (fakir miskin, musafir, dan para peminta-minta) dan sedekah adalah suatu amal yang utama, lalu sepertiga yang kedua dari hasil panennya dia alokasikan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya dan sepertiga yang terakhir dari hasil panennya dialokasikan untuk ditanam lagi (maka dapat diketahui bahwa petani tersebut tidak membuat kerusakan terhadap alam dan lingkungannya dengan tidak menguras semua hasil panen untuk dimanfaatkan semua, namun dia alokasikan sepertiganya dikembalikan ke kebunnya baik ditanam lagi atau menjadi modal pertanian selanjutnya).

Kita mengetahui bahwa sedekah menjaga hartanya, mengembangkan hartanya dan memberkahi hartanya. Kita juga mengetahui seorang memberikan nafkah kepada tanggungannya (keluarganya) adalah kewajiban dari Alloh. Kita juga mengetahui bahwa tanaman itu perlu perawatan dan pemeliharaan, perlu pemupukan dan irigasi. Petani muslim tersebut telah mengetahui hak Alloh atas hartanya sehingga dia bersedekah. Dia juga mengetahui hak diri dan keluarganya maka dia memberikan nafkan. Dia juga ahli dalam pertanian sehingga menyisakan modal untuk mengolah dan memelihara kebun dan tanamannya.

Dalam kisah di atas juga dapat diambil pelajaran tentang cara pertanian yang barokah yaitu dengan melakukan seperti yang dilakukan petani tersebut. Jadi hasil panen itu dialokasikan untuk ketiga perkara yaitu pertama untuk memenuhi kebutuhan kita dan keluarga, kedua untuk medekatkan diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala baik dengan sedekah, maupun ibadah lainnya, dan ketiga untuk modal usaha selanjutnya. Tidaklah petani shalih itu menggunakan hasil panennya untuk menumpuk dan mengumpulkan harta serta menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak bermanfaat.

Pelajaran-pelajaran dari kisah ini:

  1. Alloh menjaga dan memelihara hamba-hamba yang sholih, yang menjalan perintahnya dan menjauhi larangannya. Alloh telah memerintahkan awan itu agar member air kepada kebun petani yang shalih ini. Alloh menjaga tanaman di kebunnya agar tercukupi airnya. Air adalah kebutuhan primer bagi tanaman yang ketersediaannya terbatas di daerah padang pasir. Air juga termasuk bagian terbesar penyusun tanaman. Dengan penjagaan Alloh ini, maka petani sholih tersebut tanaman di kebunnya tetap tumbuh dengan baik.
  2. Alloh menyukai seorang hamba yang berimbang dalam segala urusan dan tindakannya, yang memberikan hak kepada yang berhak. Pemilik kebun ini membagi hasil kebunnya menjadi tiga bagian secara adil, tidak ada bagian yang mengalahkan bagian yang lain. Bukan lah berarti petani tersebut membagi hasil panennya sama banyak tetapi sesuai dengan kebutuhan masing-masing bagiannya.
  3. Orang sholih bukanlah orang yang hanya sibuk beribadah, melupakan dan meninggalkan pekerjaannya, yang tidak peduli dan menelantarkan keluarga dan masyarakatnya. Petani sholih inilah membuktikan dia bisa sholih dengan usaha pertaniannya.
One Comment leave one →
  1. tabloidgallery permalink
    16 September 2007 5:11 pm

    Blog yang bagus, menjadi pencerahan buat semua orang.
    wassalam

    tabloid gallery
    – mohon izin copy paste

    Wa’alaikumus salam
    Silahkan.. copy aja
    Barokallohu fiika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: