Skip to content

35. MEMILIH PROFESI MENJADI PETANI

22 Juni 2007

petani muslim

“Pertanian Sebuah Profesi Yang Mulai Terpinggirkan”

Sebelum memasuki pembahasan, akan disebutkan tentang masalah profesi secara umum kemudian tentang berprofesi sebagai seorang petani. Pembahasan kedua hal ini penting untuk diketahui, sebelum memasuki pembahasan-pembahasan yang selanjutnya.

Berbicara profesi maka berbicara tentang mata pancaharian dan mencari nafkah. Sesungguhnya agama islam juga memperhatikan kehidupan umat islam di dalam kehidupan mereka di dunia. Islam menganjurkan kepada para pengikutnya untuk bekerja dan berusaha. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (An Naba : 11).

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan Kami adakan bagi kalian di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kalian yang bersyukur.” (Al A’raf : 10).

Juga firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan tidaklah berdosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki) dari Rabb kalian.” (QS. Al Baqarah :198).

Islam merupakan agama yang memerintahkan untuk aktif bekerja, melakukan usaha di muka bumi dan memakmurkannya. Islam lebih menyukai seseorang itu bekerja walaupun bagaimanapun kasar ataupun rendahnya pekerjaan itu daripada orang yang menggantungkan hidupnya kepada orang lain dan meminta-minta kepada orang. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َلأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ أَحْبُلَهُ ثُمَّ ْ يَأْتِيَ الجَبَلَ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةٍ مِنْ خَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ مَنَعُوْهُ

“Jikalau seorang di antara kalian mengambil seutas tali kemudian pergi ke gunung kemudian dia pulang dengan membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya kemudian menjualnya, yang dengan itu Alloh menjaga wajahnya (kehormatan/harga dirinya), niscaya itu lebih baik baginya dari pada dia meminta-minta kepada sesama manusia, apakah mereka memberinya atau menolaknya.” [1]

Bahkan islam menganjurkan untuk memakan makanan dari hasil usaha sendiri dan dikatakan hal itu lebih baik daripada makanan hasil meminta-minta. Memakan makanan dari hasil usaha sendiri lebih baik dari pada makan makanan yang mahal atau bergizi sekalipun tetapi itu hasil dari meminta-minta. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِّهِ وَ إِنَّ نَبِيَّ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang itu memakan makanan yang lebih baik dari pada memakan makanan dari usahanya tangannya. Sesungguhnya nabi Alloh Dawud ‘alaihsi salam memakan dari hasil usaha tangannya.”[2]

Dan perlu diketahui bahwasanya para nabi pun mereka bekerja dengan profesi yang bermacam-macam. Mereka tidak mengandalkan hidup kepada orang lain. Sungguh mereka adalah sebaik-baik contoh dalam segala hal. Dalam suatu riwayat, Ibnu Abbas berkata: ” Nabi Adam ‘alaihis salam menjadi petani, nabi Nuh ‘alaihis salam menjadi tukang kayu, nabi Idris ‘alaihis salam menjadi penjahit, nabi Ibrohim ‘alaihis salam dan nabi Luth ‘alaihis salam menjadi petani, nabi Shalih ‘alaihis salam menjadi pedagang, nabi Dawud ‘alaihis salam menjadi pandai besi, nabi Musa ‘alaihis salam, nabi Syua’ib ‘alaihis salam dan nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam menjadi penggembala.” Para sahabat Rosululloh pun juga berdagang di daratan maupun lautan, menggarap tanah dan lain sebagainya.[3]

Begitulah islam, mengajak agar umat islam tidak berpangku tangan dan meminta-minta, akan tetapi menganjurkan untuk bekerja. Apalagi kepada orang yang sudah mempunyai tanggungan nafkah seperti seorang suami atau kepala keluarga maka dia wajib memberikan nafkah kepada istri dan keluarganya. Alloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berfirman:

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah : 233).

Namun Alloh subhanahu wa ta’ala juga memberitahukan bahwasanya pemberian nafkah itu sebatas kemampuannya, dan jangan berlebih-lebihan ataupun terlalu kikir. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan Alloh kepadanya. Alloh idak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Alloh berikan kepadanya…” (QS. Ath-Thalaq : 7).

Di antara bentuk memberi nafkah berupa keperluan hidup terutama sandang, pangan dan papan. Haditsnya dari Hakim bin Muawiyah Al-Qusyairi, dari ayahnya dia berkata: “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh, apakah hak istri salah seorang diantara kami?’ Beliau menjawab:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَ تَكْسُوْهَا إِذَا أَكْتَسَيْتَ

“Engkau memberinya makan jika kamu makan dan memberi pakaian jika kamu berpakaian.”[4]

Dan sungguh bedosalah orang yang membiarkan dan menelantarkan orang menjadi tanggungannya. Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar dia berkata, telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ (رواه النسائي). و هو عند مسلم بلفظ : أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوْتَهُ

“Cukuplah seseorang itu berdosa dengan menelantarkan orang yang wajib diberi makan.” Diriwayakan An-Nasai, dan dalam lafazh riwayat Imam Muslim: “Ia menahan memberi makan terhadap oarang yang ia miliki.”[5]

Kemudian bagaimanakah sikap seorang muslim dalam bekerja dan mencari nafkah. Apakah dia boleh menjadi orang yang sukses dan kaya? Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Adhim bin Badawi[6]: “Tidak mengapa (hidup) dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa.” Kemudian beliau berdalil dengan sebuah hadits dari Muadz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya dari pamannya, dia berkata: telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَ الصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَ طَيِّبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيْمِ

“Tidak mengapa (hidup) dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa, kesehatan itu bagi orang yang bertakwa lebih baik (berharga) daripada kekayaan, dan baiknya jiwa termasuk kebahagian.” [7]

Begitulah petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk umatnya, dimana beliau mengaitkan kekayaan dan ketakwaan. Karena memang realita yang ada di tengah-tengah kaum muslimin terdapat orang-orang kaya tetapi mereka tidak bisa menggunakan hartanya dengan benar sesuai dengan apa yang diajarkan islam. Mereka tidak menggunakan kekayaannya untuk kepentingan ketaatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala tetapi kebanyakan mereka justru digunakan untuk bermaksiat. Hal ini terjadi dikarenakan mereka tidak bertakwa. Justru yang kita lihat kebanyakan orang kaya malah menggunakan harta itu untuk bermaksiat, menumpuk harta dan berfoya-foya, rakus terhadap dunia dan lalai dengan akhirat.

Tetapi bagaimanakah dengan hasil binaan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yaitu para sahabat rodhiyallohu ‘anhum, mereka adalah orang-orang bertakwa lagi diridhai Alloh . Bacalah sejarah para sahabat rodhiyallohu ‘anhum dan para salafus shalih pasti di antara mereka terdapat orang-orang kaya. Mereka bisa menggunakan hartanya untuk kemaslahatan dirinya dunia dan akhirat, keluarga dan kepentingan umat islam, tidaklah itu bisa mereka lakukan melainkan karena mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Sehingga mereka bisa menggunakan hartanya di jalan Alloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mereka tidak tertipu dengan dunia. Pada pembahasan Petani-petani Teladan, akan disebutkan dua kisah orang yang bertakwa yang bisa memanfaatkan hartanya, yaitu kisah seorang sahabat Abu Thalhah rodhiyallohu ‘anhu dan thabi’in Urwah bin Zubair rohimahulloh.

Jadi perlu diperhatikan sebelum berkecimpung di dalam sebuah profesi, mental yang harus dipersiapkan adalah ketakwaan, sehingga kita bisa memanfaatkan harta yang Alloh subhanahu wa ta’ala amanahkan kepada kita dan tidak tertipu dengan harta dan dunia. Namun perlu diketahui ketakwaan hanya didapat oleh orang yang faham dengan agamanya. Sedangkan kefahaman terhadap agama didapatkan dengan mempelajari ilmu agama dan memahami agama dengan benar yaitu memahami agama menurut pemahaman para sahabat rodhiyallohu ‘anhum

Kemudian Syaikh Abdul Adhim bin Badawi menegaskan: “Anjuran untuk sederhana dalam mencari nafkah.”[8] Beliau berdalil dengan hadits dari Jabir bin Abdullah ra dia berkata telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ وَ اجْمَلُوْا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَوْفَى رِزْقَهَا وَ إِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَ اجْمَلُوْا فِي الطَّلَبِ خُذُوْا مَا حَلَّ وَ دَعُوْا مَا حَرَمَ

Wahai manusia! Bertakwalah kalian kepada Alloh dan perbaikilah dalam mencari (rizki), karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati sampai selesai/habis rizkinya dan jika ditangguhkan darinya maka bertakwalah kalian kepada Alloh dan perbaikilah dalam mencari (rizki), ambillah apa yang halal dan tinggalkan apa yang haram”[9]

Begitulah islam mengajarkan bagi kita untuk seimbang dalam bekerja, kita disuruh berusaha dan juga bertawakkal, mencari yang halal dan meninggalkan yang haram. Tidak usah takut akan kelaparan, karena tidaklah seseorang itu akan mati sebelum habis rizkinya makanya kita disuruh berusaha kemudian bertawakkal.

Pembahasan selanjutnya mengenai memilih profesi sebagai petani. Profesi petani merupakan salah profesi yang ditekuni oleh para nabi, diantaranya nabi Adam ‘alaihis salam, nabi Ibrohim ‘alaihis salam dan nabi Luth ‘alaihis salam. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas rahuma:

أَنَّ دَاوُدَ كَانَ زَرَّادًا (يَصْنَعُ الزَّرَدَ وَ الدُّرُوْعَ) وَ كَانَ آدَمُ حَرَّاثًا وَ كَانَ نُوْحٌ نَجَّارًا وَ كَانَ إِدْرِيْسُ خَيَّاطًا وَ كَانَ مُوْسَى رَاعِيًا

“Bahwasanya Nabi Dawud adalah seorang pandai besi (pembuat baju besi), Nabi Adams adalah seorang petani, Nabi Nuh as adalah seorang tukang kayu, Nabi Idris as adalah seorang penjahit (penenun) dan Nabi Musa as adalah seorang penggembala.”[10]

Kegiatan pertanian juga dilakukan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan kulafaur rasyidin rodhiyallohu ‘anhum dan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum, mereka melakukan dan musaqat dan muzara’ah[11]. Dan di dalam sejarah disebutkan bahwa penduduk Madinah yaitu para sahabat dari kalangan anshar berprofesi sebagai petani kurma dan daerah Madinah sejak dahulu sebagian besar adalah daerah pertanian kurma. Dalam kitab Shahihain diriwayatkan dari jalur Ibnu Syihab dari Al-A’raj dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Orang-orang menuding Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits-hadits dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Hanya kepada Alloh-lah tempat kembali. Orang-orang juga menyatakan, ‘Mengapa kaum Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits seperti Abu Hurairah?’ sesungguhnya saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin sibuk berdagang di pasar, sementara saudara-saudaraku dari kalangan Anshar sibuk mengurus kebun-kebun kurma mereka. Adapun aku hanyalah seorang fakir miskin yang senantiasa menyertai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan makanan sekedar mengganjal perut. Dan aku dapat menghafal hadits-hadits yang terluput dari mereka.”[12]

Alloh menyuruh untuk mencari nafkah dengan cara halal. Dan sesungguhnya pertanian adalah salah satu profesi yang halal dan bisa dijamin kehalalannya oleh petani itu sendiri. Perhatikanlah seorang petani, dia bisa menjamin kehalalan apa yang dia makan, misalnya dia menanam padi kemudian dipanen dan nasinya dia makan maka dia akan tahu dengan jelas kehalalan makanan yang masuk ke dalam perutnya.

Di antara baiknya suatu profesi adalah dilihat dari kemampuan memberi manfaat bagi orang lain. Cobalah lihat pertanian, bidang ini menyediakan bahan makanan bagi orang banyak, bahkan makhluk lain seperti binatang. Perhatikanlah juga orang-orang kota mereka semua makan dan bahan makanan mereka berasal dari jerih payah para petani, maka manfaat pertanian sangat besar untuk keberlangsungan kehidupan manusia.

Dan ternyata ajaran islam memberikan anjuran untuk bercocok tanam. Ini adalah sebuah lisensi dari ajaran islam terhadap pertanian dan mengenai pembahasan anjuran islam tersebut akan dibahas dalam pembahasan tersendiri, insya Alloh.


[1] HR. Imam Bukhari.

[2] HR. Imam Bukhari.

[3] Minhajul Qashidin, hal.101.

[4] HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah.

[5] HR. Imam Muslim.

[6] Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz hal. 330

[7] Hadits shahih riwayat Imam Ibnu Majah lihat Shahih Ibnu Majah hadits no.1741, Sunan Ibnu Majah (2/724/2141).

[8] Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz hal. 330

[9] HR. Imam Ibnu Majah lihat Shahih Ibnu Majah hadits no.1743, Sunan Ibnu Majah (2/725/2144).

[10] HR. Al Hakim, hadits shahih lihat Ghayatul Maram (163/1), halaman 288.

[11] Pembahasan mengenai Musaqat dan Muzara’ah akan dibahas bab-bab tersendiri.

[12] HR. Imam Muslim no.2491.

4 Komentar leave one →
  1. 4 Januari 2010 10:23 am

    Blognya bagus akhi, tapi saya masih prihatin, rasa2nya saya belum ketemu sama kawan2 petani muslim yang intens melakukan advokasi masalah2 pertanian. Coba saja tengok ornop2, atau organisasi2 tani yang eksis, silakan antum nilai sendiri.

  2. septaristya umeksi permalink
    18 September 2011 5:11 pm

    mnurut saya, blognya bagus, tp isiny kurang masuk ke pertanian. blog ini hanya membahas scr umum. belum spesifik, bagaimana hubungan antara profesi pertanian dlm islam scr lebih detail.

    • ABU ABDILBARR permalink*
      21 September 2011 11:03 am

      Terima kasih atas masukannya. Barakallahu fik..

  3. 6 Desember 2011 10:36 am

    iya sama-sama…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: