Skip to content

28. PERTANIAN YANG DILARANG

22 Juni 2007

“Membahas Hadits-hadits Yang Seakan-akan Melarang Pertanian”

Berkata Imam Bukhari ketika membawakan hadits diatas:

بَابُ مَا يُحْذَرُ مِنْ عَوَاقِبِ الإِسْتِغَالِ بِآلَةِ الزَّرْعِ اَوْ مُجَاوَزَةِ الْحَدِّ الَّذِيْ أُمِرَ بِهِ

“Bab apa yang diperingatkan dari akibat-akibat menyibukkan diri dengan alat pertanian dan melampaui batas dari yang diperintahkan kepadanya.”[1]

Kemudian Imam Bukhori membawakan hadits dalam kitab Shahihnya :

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ: وَرَأَى سِكَّةً وَ شَيْئًا مِنْ آلَةِ الْحَرْثِ فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ يَدْخُلُ هَذَا بَيْتَ قَوْمٍ إِلاَ أَدْخَلَهُ اللهُ الذُّلَ

“Dari Abu Umamah Al bihili bahwasanya dia melihat sungkal bajak dan beberapa alat untuk menanam, kemudaian dia berkata ” Saya mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah alat ini masuk kerumah suatu kaum melainkan Alloh memasukkan (menimpakan) kepadanya kehinaan.” [2]

Ada sebagian orang orientalis yang memang membenci agama islam kemudian mereka memojokkan agama islam dengan melemparkan beberapa tuduhan, di antaranya bahwasanya agama islam tidak menganjurkan kaum muslimin untuk tidak terjun dalam bidang pertanian dengan menyebutkan hadits-hadits yang seakan melarang bercocok tanam. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani, “Yang mendorong saya menulis makalah ini adalah adanya dugaan seorang orientalis berkebangsaan Jerman, bahwa islam menganjurkan agar kaum muslimin tidak bercocok tanam. Ia memakai landasan hadits yang ada di dalam kitab Shahih Bukhari.”[3]

Sedangkan Ath-Thabrani juga meriwayatkannya dalam Al-Kabir dalam sanad yang lain dari Abu Umamah secara marfu’ dengan redaksi:

مَا مِنْ اَهْلِ بَيْتٍ يَغْدُوْ عَلَيْهِمْ فَدَانَ إِلاَّ ذَلُّوْا

“Tidaklah dari penghuni rumah yang pergi pada waktu pagi dengan sepasang lembu (untuk membajak) melainkan (akan ditimpakan) kehinaan.”

Hadits ini disebutkan dalam Al-Majma’ (6/120).

Berkata Syaikh Al-Albani rohimahulloh:”Para ulama telah menggabungkan hadits ini dengan hadits yang telah disebutkan terdahulu (Hadits tentang anjuran bercocok tanam):

1.Yang dimaksud dengan Adz-Dzull adalah kewajiban (pajak) bumi yang diminta oleh negara. Orang yang melibatkan dirinya kedalamnya, berarti telah menceburkan atau menyodorkan dirinya kedalam kehinaan. Al-Manawi di dalam kitabnya Al-Faidh menandaskan: “Hadits ini tidak mencela pekerjaan bercocok tanam, sebab pekerjaan itu terpuji, karena banyak yang membutuhkannya. Disamping itu, kehinaan (karena melibatkan diri dalam urusan pajak) tidak menghalangi sebagian orang (yang bercocok tanam). Dengan kata lain keduanya tidak ada hubungannya (talazum).” Karenanya Ibnut Tin mengatakan: “Hadits ini merupakan salah satu berita Nabi tentang hal-hal yang bersifat abstrak, karena dalam kenyataannya yang kita saksikan bahwa mayoritas orang yang teraniaya adalah para petani.”

2.Hadits ini dimaksudkan bagi mereka yang terbengkalai urusan ibadahnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya itu, lebih-lebih untuk berperang yang pada saat itu sangat dibutuhkan. Nampaknya dengan pendapat inilah Imam Bukhari rohimahulloh memberi judul hadits itu dengan judul: “Bab apa yang diperingatkan dari akibat-akibat menyibukkan diri dengan alat untuk menanam dan melampaui batas dari yang diperintahkan kepadanya.”

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa terlalu menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan dapat menyebabkan seseorang lupa dengan kewajibannya, rakus terhadap dunia dan ingin terus-menerus bergulat dalam usaha pertanian bahkan enggan untuk berjuang . Hal ini juga banyak kita lihat pada orang-orang kaya. [4]

Dalam hadits di atas Imam Bukhari membawakan hadits ini sebagai peringatan agar tidak menyibukan diri dalam pertanian dan melampaui batas dalam bertani. Bukanlah Imam Bukhari mebawakan hadits ini untuk melarang bertani, tetapi apabila bertani tanpa menyibukkan diri (menjaga kewajibannya beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan tidak lalai) dan juga tidak melampaui batas dalam bertani maka hal ini tidaklah terlarang.

Mengomentari perkataan Ibnut Tin bahwasanya kehinaan yang terjadi adalah kondisi para petani yang berada dalam keadaan tertindas itu ada benarnya terlebih di zaman sekarang dimana keberpihakan terhadap petani adalah sangat kurang baik perhatian maupun kebijakan, malah terkadang merugikan para petani, maka kita lihat mayoritas petani adalah kalangan yang berada dalam kemiskinan dan keterbelakang sehingga seakan-akan bercocok tanam adalah suatu kehinaan.

Namun penjelasan tentang kehinaan yang dimaksud dalam hadits di atas yang benar adalah terbengkalainya urusan agamanya sebagimana akan disebutkan pada penjelasan hadits selanjutnya. WAllohu a’lam

Hadits lain yang seakan melarang pertanian adalah bahwasanya Rosululloh r bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَ رَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَ تَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian (umat islam) telah berjual beli dengan sistem ‘inah (salah satu jenis jual beli yang hukumnya riba) dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi (suka beternak) dan kalian telah ridha/senang dengan pertanian dan kalian telah meninggalkan jihad; maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada kalian, kehinaan itu tidak dicabut (oleh Alloh) sampai kalian mau kembali kepada agama kalian.”[5]

Kembali Syaikh Albani menjelaskan: “Renungkanlah bahwa hadits ini menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu sebelumnya. Kerendahan di dalam hadits itu bukanlah semata-mata karena bercocok tanam tetapi jika hal itu diiringi dengan kesibukan yang melalaikan perjuangan. Selagi bercocok tanam tidak mengganggu kewajibannya (sebagai seorang muslim) maka tidak mengapa justru maksud hadits ini menganjurkan untuk bercocok tanam. Jadi hadits tidak mengalami pertentangan dengan hadits yang sebelumnya (yang menganjurkan bercocok tanam) sama sekali.” [6]

Perhatikanlah hadits di atas, maka tidaklah maksudnya melarang pertanian tetapi melarang untuk menyibukkan diri dalam bertani dengan melalaikan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala. Maka seorang petani yang melanggar larangan-Nya dan meninggalkan perintah-Nya maka Alloh subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dengan pertaniannya itu menjadi sebuah kehinaan. Solusinya adalah petani itu mau kembali kepada agamanya yaitu berpegang teguh dengan ajaran agamanya dan mempelajari agamanya maka dia akan bertani tanpa meninggalkan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala dan tanpa melanggar larangan-Nya. Dengan petani menuntut ilmu agama menyebabkan ia bisa menjauhi syirik dan bid’ah, tidak terlena dengan pertanian, dia bisa shalat tepat waktu dan berjama’ah di masjid, berzakat dan bersedekah. Apabila keadaannya demikian maka menjadi lenyaplah kehinaan dan munculah kemulian karena disamping dia berpegang teguh dengan agamanya juga dengan dia bercocok tanam akan memberikan manfaat bagi keluarga dan umat islam karena dia menyediakan bahan makanan bagi mereka.

Tidaklah maksud hadits ini sebagaimana yang disebutkan oleh seorang penulis terkenal yang dia mengomentari hadits ini dengan mengatakan: ” kita tidak boleh membatasi pekerjaan hanya dalam tiga profesi tersebut (perdagangan, peternakan dan pertanian) akan tetapi kita harus mengembangkan profesi-profesi lain.” Sungguh ini adalah penjelasan yang jauh dari makna hadits ini dan bertentangan dengan penjelasan para ulama tentang hadits ini. Meskipun perkataannya benar namun penggunaan hadits ini sebagai dalil perkataannya adalah keliru.

Hadist lain yang seakan melarang bercocok tanam adalah sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تَتَّخِذُوْا الضَّيْعَةَ فَتَرْغَبُوْا فِيْ الدُّنْيَا

“Janganlah kalian membuat pekarangan yang kemudian membuat kalian cinta kepada dunia”[7]

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits tersebut (no. 4181, 4174) dari Abu Thayyah yang diperoleh dari Ibnul Akhram-seorang laki-laki dari Thayyi’ yang menerima hadits tersebut dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’ dengan redaksi:

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang berlebih-lebihan dalam perkara keluarga dan harta benda.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkannya dengan redaksi pertama, di dalam menjelaskan hadits Anas yang terdahulu (hadits tentang anjuran bercocok tanam), beliau menjelaskan: “Al-Qurthubi berkata: ‘Hadits ini dikompromikan dengan hadits yang ada dalam bab “Pekerjaan yang membuat lalai dari ibadah dan kewajiban lainnya.” Sedangkan hadits yang menganjurkan bercocok tanam ditujukan untuk usaha pertanian yang hasilnya memberikan manfaat pada kaum muslimin.”[8]

Syaikh Albani rohimahulloh berpendapat: “Pengkompromian semacam ini diperkuat oleh redaksi kedua yang berasal dari Ibnu Abbas, di mana kata tabaqqur diartikan dengan at-takatstsur (berlebih-lebihan/bermegah-megahan) dan at-tawassu’ (memperluas). WAllohu A’lam.[9]

Demikianlah penjelasan tentang hadits-hadits yang seakan-akan melarang bercocok tanam. kesimpulannya bahwa hadits-hadits itu ditafsirkan terlarang apabila bercocok tanam itu menyebabkan terbengkalainya urusan agamanya karena dia sibuk dengan pertanian, dia juga meninggalkan perjuangan dan dia tidak berpegang teguh dengan agamanya. Sehingga yang terjadi adalah dia meninggalkan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala yaitu kewajibannya sebagai seorang muslim juga dia melanggar larangan Alloh subhanahu wa ta’ala. Jika demikian dia telah tertipu dengan dunia padahal dunia itu adalah bermakna rendah atau hina. Dia diperbudak oleh sesuatu yang hina yaitu dunia maka dia menjadi hina. Kita berlindung dari hal yang demikian.

Adapun solusi dari hal itu adalah kembali kepada ajaran islam sehingga dia bisa berpegang teguh dengan ajaran islam dan tidak tertipu dengan dunia. Namun tidaklah itu dapat dilakukan oleh orang yang bodoh tentang agamanya maka tiadalah caranya melainkan mempelajari agama islam dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman salafus shalih.

Untuk menutup pembahasan ini dengan perkataan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali: “Adapun larangan yang ada terhadap hal-hal tersebut diartikan jika pekerjaan itu pekerjaan itu melalaikan seseorang dari urusan agama dan apabila dia menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya serta tingkatan ilmunya yang tertinggi. Hal itu terjadi dalam kondisi memperbanyak harta dunia, kami mohon kepada Alloh subhanahu wa ta’ala agar kami ditempatkan pada tempat orang-orang yang berbakti.”[10]


[1] Shahihul Bukhari, jilid 2 hal. 55.

[2] HR. Imam Bukharino.2321, Fathul Bari (4/5).

[3] Silsilah Hadits Shahih, hal.17.

[4] Buku Silsilah Hadits Shahih, hal. 15 – 16.

[5] HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud.

[6] Buku Silsilah Hadits Shahih, hal. 17.

[7] HR. Tirmidzi (4/264), Imam Ahmad no.2598, 4047, Hakim (4/222).

[8] Buku Silsilah Hadits Shahih, hal. 18 – 19.

[9] Buku Silsilah Hadits Shahih, hal. 19.

[10] Syarah Riyadhush Shalihin, jilid 1 hal. 355.

4 Komentar leave one →
  1. 15 Oktober 2009 7:44 pm

    xfaham apa yg ditulis

  2. 15 Oktober 2009 7:46 pm

    bleh x tlis dlam bhasa melayu

  3. 12 Agustus 2010 8:06 pm

    hhm…bingung mahaminya..???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: