Skip to content

36. KISAH PETANI DI SURGA

1 Juli 2007

Menanam dalam sekejap mata bisa dipanen

Bagaimanakah keadaan para petani di sawah-sawah mereka? Tentu kita bisa melihat mereka adalah pekerja keras. Mereka banting tulang, mengeras keringat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti mengolah sawah berupa membajak sawah, membuat pematang dan parit. Juga kegiatan menanam berupa menyemai benih dan menanam bibit. Kemudian setelah tanaman tumbuh juga perlu dilakukan kerja keras dalam merawat dan memelihara tanaman baik berupa penanggulangan gulma dengan dilakukan penyiangan ataupun penyemprotan herbisida ataupun penanggulangan hama penyakit dengan melakukan penyemprotan insektisida dan fungisida. Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan susah payah, kerja keras dan penuh pengorbanan. Belum lagi setelah dipanen, beberapa tanaman juga perlu diolah untuk bisa dikonsumsi dengan beberapa penanganan pasca panen.

Lalu bagaimanakah dengan keadaan petani-petani di surga?. Tentu kita telah mengetahui dan mengimani bahwa negeri penuh kenikmatan, kenyamanan dan kebahagiaan yang di dalamnya tidak ada kerepotan, kepayahan, jerih payah dan kesengsaraan. Kalau di surga ada orang yang bercocok tanam, pastinya tidak seperti di dunia dong yang penuh dengan kendala sebagaimana gambaran yang tersebut di atas.

Sesungguhnya para petani di surga, mereka setelah menabur benih kemudian sekejap mata mereka bisa memanennya. Sangat menkjubkan dan mudah bukan?. Ada hadits yang menerangkan tentang hal ini yaitu:

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ’anhu bahwasanya Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam pada suatu hari berbincang dengan para sahabat sedang di sisi beliau ada orang badui. Beliau berkata: ’Bahwasanya ada salah seorang penghuni surga yang meminta izin kepada Robb-Nya untuk bercocok tanam , maka Alloh berkata kepadanya: ”Bukankah kamu telah memperoleh apa yang kamu kehendaki?” Dia menjawab: ”Betul, akan tetapi aku suka bercocok tanam.” Rosululloh kemudian bersabda: ’Kemudian penghuni surga itu menaburkan benih, dalam sekejap mata dihadapannya benih itu telah menjadi tanaman yang matang dan siap dipanen. Tanaman tersebut terkumpul seperti gunung. Lalu Alloh berkata: ”Ambillah wahai anak adam, sesungguhnya tidak ada yang bisa membuatmu kenyang”. Orang badui itu lalu bekomentar: ”Demi Alloh, aku tidak mendapati petani tersebut kecuali orang Quraisy atau Anshor karena mereka adalah orang-orang yang suka bercocok tanam.” Mendengarkan perkataan tersebut, Nabi sholallohu ’alaihi wa sallam tertawa.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh menjelaskan: ”Pada intinya hadits di atas menunjukkan bahwa di surga terdapat tanaman dan bibitnya juga berasal dari surga. Kalau ada orang yang bertanya, ’kenapa orang tersebut meminta izin kepada Robb-nya untuk menanam kemudian Alloh menjelaskan padanya bahwa orang tersebut tidak perlu menanam lagi?’ Jawabnya: bahwa orang tersebut meminta izin kepada Alloh untuk menanam tanaman dengan tangannya sendiri. Padahal Alloh sebenarnya tidak memerlukan orang itu bercocok tanam dan juga Alloh telah menyukupi semua kebutahan orang tersebut.”

Beliau juga menegaskan kisah tadi seraya berkata: ”Ibrohim bin Hakam meriwayatkan dari ayahnya, dari Ikrimah, dia berkata: ’Seorang penghuni surga bergumam dalam hatinya, ’Bagaimana ya, kalau sekiranya Alloh mengizinkan aku menanam tanaman di surag’. Orang tersebut tidak tahu kalau para malaikat sedang berdiri di pintu-pintu istananya. Para malaikat pun berkata kepadanya: ’Salam sejahtera untukmu, Robb-mu berfirman kepadamu bahwa engkau bergumam dalam hatimu ingin menanam tanaman di surga. Aku mengetahuinya. Sekarang Alloh mengutusku ke mari untuk mengantarkan benih-benih tanaman yang engkau inginka.’Alloh berkata: ’Tanamlah!’ Tidak lama kemudian tanaman itu tumbuh tinggi setinggi gunung. Alloh di atas arsy-Nya berkata kepadanya: ’Makanlah, wahai anak adam, sesungguhnya anak adam tidak pernah merasa kenyang’ Wallohu a’lam.”

Muroji’:

Tamasya Ke Surga oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah terbitan Darul Falah Jakarta. 1421 H.

Hadits Qudsi Shohihain (Bukhori Muslim) oleh ’Irfan bin Salim Al-’Asysya Hassunnah Ad-Dimasyqi terbitan Media Hidayah Yogyakarta. 2006 M.

2 Komentar leave one →
  1. budi permalink
    3 Maret 2009 3:30 pm

    jujur critanay bagus tapi kayaknya perlu ada tambahan catatan tentang kajian/ inti hadisnya atau artikelnya sehingga mudah dimengerti oleh pembaca….jujur saya hanya paham 50%

  2. 8 Oktober 2009 2:28 pm

    ass ww, lam kenal mas … terus berkarya/berinformasi kepada sesama (khususnya sesama muslim) untuk pencerahan. numpang sewaktu-waktu tulisannya saya ambil untuk referensi biar ilmu agronomi saya gak hilang… trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: