Skip to content

40. KIRAUL ARDHI: MENYEWAKAN TANAH UNTUK PERTANIAN

31 Agustus 2007

disewakan lahanMenanam tanam dengan Menyewa Lahannya

Menyewakan tanah adalah diperboleh oleh ajaran islam karena memang hal ini termasuk ijarah dalam istilah agama islam. Dan menyewakan tanah ini terdapat manfaat yang diperoleh dua pihak dan tidak ada yang dirugikan.

Adapun dalil-dalil yang menerangkan bolehnya penyewaan tanah.

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيْجٍ قَالَ: كُنَّا أَكْثَرَ الأَنْصَارِ حَقْلاً, وَ كُنَّا نَكْرِي الأَرْضَ عَلَى أَنَّ لَنَا هَذِهِ وَ لَهُمْ هَذِهِ, وَ رُبَّمَا أَخْرَجَتْ هَذِهِ وَ لِمْ تُخْرِجْ هَذِهِ, فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ. فَأَمَّا اْلوَرِقُ فَلَمْ يَنْهَنَا

“Dari Rafi’ bin Khadij, dia berkata, kami adalah penduduk anshar yang paling banyak kebunnya. Dulu kami menyewakan tanah dengan syarat bagi kami bagian ini dan bagi mereka (penyewa) bagian itu, dan pohon terkadang tanah ini mengeluarkan (hasil tanaman) dan tanah itu terkadang tidak mengeluarkan (hasil tanaman), kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu. Adapun dengan perak maka beliau tidak melarang kami.”

عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: سَأَلْتُ رَافِعَ بْنَ خَدِيْجٍ عَنْ كِرَاءِ الأَرْضِ بِالذَّهَبِ وَ الْوَرِقِ, فَقَالَ: لاَ بَأْسَ بِهِ, إِنَّمَا كَانَ النَّاسُ يُؤَاجِرُوْنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِمَا عَلَى الْمَاذِيَانَاتِ وَ أَقْبَالِ الْجَدَاوِلِ, وَ أَشْيَاءَ مِنَ الزَّرْعِ, فَيَهْلِكُ هَذَا وَ يَسْلَمُ هَذَا, وَ يَسْلَمُ هَذَا وَ يَهْلِكُ هَذَا, وَ لَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ كِرَاءٌ إِلاَّ هَذَا, فَلِذَلِكَ زَجَرَ عَنْهُ, فَأَمَّا شَيْءٌ مَعْلُوْمٌ مَضْمُوْنٌ فَلاَ بَأْسَ بِهِ.

”Dari Hanzhalah bin Qais, dia berkata, aku bertanya kepada Rafi’ bin Khadij mengenai penyewaan tanah dengan emas dan perak, kemudian dia menjawab, tidak apa-apa. Sesungguhnya orang-orang pada zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyewakan tanah dengan imbalan apa yang tumbuh di saluran air dan parit, dan berupa aneka tanaman. Kemudian terkadang tanaman ini rusak dan itu selamat, terkadang juga tanaman ini selamat dan tanaman itu rusak, sedangkan orang-orang tidak mempunyai sewaan kecuali itu, oleh karena itu Rasullah shollallohu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Adapun sesutu (imbalan) yang jelas diketahui dan terjamin maka tidak apa-apa.

Berkata Syaikh Abdulllah Al Bassam: “Dalam dua hadits ini merupakan penjelasan dan perincian untuk penyewaan tanah yang sah dan penyewaan tanah yang tidak boleh.

Rafi’ bin Khadij rodhiyallohu ‘anhu menyebutkan bahwa keluarganya adalah yang paling banyak mempunyai ladang dan kebun di Madinah. Mereka menyewakan tanahnya dengan penyewaan ala jahiliyah, mereka memberikan tanah untuk ditanami dengan syarat bagi mereka bagian tanaman sebelah sini, dan bagi penggarap (penyewa) bagian tanaman dari sebelah situ. Mereka menjadikan untuk pemilik tanah bagian tanaman yang baik seperti di sekitar saluran dan parit, kemudian untuk penyewa bagian tanaman mereka yang rusak ataupun sebaliknya.

Kemudian Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang muamalah seperti ini, karena di dalamnya terdapat penipuan dan ketidak jelasan dan resiko, dan sesungguhnya muamalah seperti ini termasuk sebagaimana perjudian yang haram dan tidak diperbolehkan, maka haruslah diketahui imbalan dengan jelas, sebagaimana kerugian dan keuntungan harus ditanggung bersama-sama.

Jika muamalah itu dengan bagian dari muamalah maka termasuk kerjasama yang dibangun atas dasar keadilan dan kesamaan dalam keuntungan dan kerugian muamalah tersebut. Dan jika muamalah itu dengan imbalan maka termasuk penyewaan maka haruslah muamalah itu diketahui imbalannya.

Penyewaan tanah adalah boleh, baik dengan emas dan perak ataupun dengan tanaman yang keluar dari tanah tersebut ataupun dari jenis yang sama ataupun dari jenis lain, karena umumnya hadits (Adapun sesuatu (imbalan) yang jelas diketahui dan terjamin maka tidak apa-apa)”.

Beliau menambahkan tentang pelajaran yang bisa diambil dari kedua hadits itu adalah:

1.Bolehnya penyewaan tanah untuk pertanian, dan para ulama telah sepakat tentang masalah ini.

2.Bahwa haruslah imbalan itu jelas dan diketahui, tidak sah bila imbalan tidak tidak jelas.

3.Keumuman hadits memberikan pelajaran bahwa tidak apa-apa imbalan dari emas atau perak atau selain keduanya, bahkan sekiranya dari tanaman yang keluar dari tanah tersebut atau dari (tanaman) apa pun yang keluar dari tanah dengan bantuannya (usahanya).

4.Larangan memasukan syarat-syarat yang jelek di dalam muamalah, dan itu seperti syarat sebelah tertentu dari tanaman dan mengkhususkan bagian yang di dekat saluran air atau yang lainnya untuk pemilik tanah atau penyewa tanah, maka ini termasuk muzara’ah atau penyewaan yang jelek. Karena di dalamnya terdapat penipuan, ketidak jelasan dan kezhaliman dari pihak yang satu kepada pihak yang lain, dan wajib muamalah itu dibangun atas dasar keadilan dan kesamaan.

5.Dari sini juga diketahui bahwa semua penipuan, ketidakjelasan dan monopoli, semuanya adalah haram dan bathil, termasuk perjudian dan di dalamnya terdapat menzhalimi pihak lain. Dan bahwasanya syariat islam datang dengan keadilan, seimbang dan pertengahan di antara manusia, untuk menjauhkan permusuhan dan kebencian, serta mendatangkan kecintaan dan kasih sayang.

Dari dua hadits di atas, menunjukkan bolehnya penyewaan tanah dengan imbalan yang jelas, seperti emas, perak dan uang. Sementara yang dilarang dalam dua hadits itu adalah muzara’ah yang tidak jelas pembagian hasilnya. Walaupun lafadz yang ada menggunakan kata menyewakan tanah, namun yang dimaksud adalah muzara’ah karena menggunakan imbalan tanaman ataupun hasil dari tanah tersebut. Sementara penyewaan dengan emas, perak dan juga uang inilah yang disebut penyewaan tanah yang sebenarnya, dan telah banyak didapati di masyarakat para petani melakukan penyewaan tanah dengan uang dan ini boleh menurut ajaran agama islam. Mengenai bolehnya penyewaan tanah dengan uang adalah sebagai berikut:

عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ عن رَافِعِ بْنِ خَدِيْجٍ قَالَ: حَدَثَنِّيْ عَمَّايَ أَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْرُوْنَ الأَرْضَ عَلَى عَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِمَا يَنْبُتُ عَلَى الأَرْبِعَاءِ أَوْ شَيْءٍ يَسْتَثْنِيْهِ صَاحِبُ الأَرْضِ, فَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ. فَقُلْتُ لِرَافِعٍ: فَكَيْفَ هِيَ بِالدِّيْناَرِ وَ الدِّرْهَمِ؟ فَقَالَ رَافِعٌ: لَيْسَ بِهَا بَأْسَ بِالدِّيْناَرِ وَ الدِّرْهَمِ.

.

“Dari Hanzhalah bin Qais dari Rafi’ bin Khadij, dia berkata, pamanku telah menceritakan kepadaku bahwasanya mereka menyewakan tanah pada zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan apa yang tumbuh dari saluran-saluran air atau sesuatu yang telah dikecualikan pemilik tanah, kemudian Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu. Aku bertanya kepada Rafi’, bagaimana bila dengan dinar dan dirham?, maka Rafi’ menjawab, tidak mengapa menyewa tanah dengan dinar dan dirham.

Hadits ini semisal dengan dua hadits terdahulu yang menjelaskan bolehnya penyewaan tanah dengan imbalan yang jelas, diantaranya dengan imbalan berupa dinar dan dirham yang merupakan mata uang. Maka penyewaan tanah dengan uang juga tidak masalah dan diperbolehkan karena imbalannya jelas.

Demikianlah pembahasan mengenai penyewaan tanah, dan ternyata agama islam mengaturnya dengan pijakan yang jelas dan tidak ada unsur saling merugikan satu sama lain. Tapi justru saling menguntungkan, dengan adanya kejelasan imbalan atau biaya sewa maka tidak ada pihak yang dirugikan, berbeda dengan dengan imbalan apa yang keluar dari hasil tanah seperti hasil tanaman, dengan membagi-bagi menjadi beberapa blok, blok ini untuk penyewa hasil tanamannya, sementara blok yang ini lagi untuk pemilik tanah sebagai imbalan sewanya maka hal ini tidak diperbolehkan. Karena tidak adanya ketidak jelasan dalam nilai imbalan dan juga belum adanya kejelasan hasil tanaman itu. Bisa saja blok yang untuk penyewa hasilnya rusak dan untuk pemilik tanah bagus, maka penyewa dirugikan dan juga bisa sebaliknya. Maka islam datang dengan syariat yang jelas termasuk dalam masalah penyewaan tanah ini salah satu syaratnya adalah imbalan harus jelas seperti dengan emas, perak, uang ataupun yang lainnya.

Daftar Pustaka : Taisirul Alam,

(BERSAMBUNG)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: