Skip to content

20. MUSAQAT :MEMELIHARA TANAMAN ORANG LAIN

31 Agustus 2007

menyiram tanamanMerawat Tanaman Orang

Merawat tanaman orang lain dalam islam disebut dengan istilah musaqat. Pengertian musaqat sendiri adalah seseorang memberikan pohon kepada orang yang akan mengairi dan memelihara dengan upah tertentu dari buahnya.

Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi: “Musaqat diperbolehkan dan dalil diperbolehkannya adalah perbuatan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan khulafaur rasyidin rahum sepeninggal beliau. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menyuruh penduduk khaibar menggarap tanah khaibar dengan bagian setengah dari tanaman atau buah yang dihasilkan lahan tersebut. Akad yang sama juga dilakukan oleh Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu, Umar bin Khaththab rodhiyallohu ‘anhu, Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu, dan Ali bin Abu Thalib rodhiyallohu ‘anhu.”

Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَطْرٍ عَلَى مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ

“Bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallammempekerjakan penduduk khaibar dengan (bagian untuk mereka) setengah dari apa yang keluar (tumbuh) darinya berupa buah atau tanaman.”

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang kebolehannya, juga mengenai jenis tanaman apakah hanya berupa pohon kurma saja, atau hanya pepohonan saja ataukah semua tanaman. Namun yang kuat adalah semua tanaman, karena lafazh yang ada dengan lafazh umum yaitu buah atau tanaman. Jadi semua yang bisa dimanfaatkan maka bisa kita menyuruh orang lain merawatnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdullah Al-Bassam: “Dan yang benar, tidak ragu lagi adalah bahwa hukum (musaqat) mencakup pada setiap pepohonan yang mempunyai manfaat. Karena hadits yang datang dengan (lafazh) buah itu adalah lafadz umum untuk setiap buah. Barangsiapa yang mengkhususkan maka hendaklah dia (datangkan) dalil dan karena dua akad ini termasuk akad persarikatan (kerja sama) sebagai pokok kiyasnya, dan (musaqat) diketahui pekerjaannya dan diketahui bagian (yang diperoleh).”

Dan perlu diperhatikan dalam musaqat harus jelas waktu atau tempo perawatannya sehingga ada kejelasan dan tidak ada unsur penipuan. Berkata Ash-Shan’ani: “(Ulama) telah bersepakat bahwa tidak boleh musaqat kecuali dengan waktu yang diketahui.”

Dalil lain yang menunjukkan kebolehan musaqat adalah hadits dari Abu Hurairah ra, dia berkata:

قَالَتِ الأَنْصَارُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِقْسِمْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ إِخْوَانِنَا النَّخِيْلَ, قَالَ: لاَ, فَقَالُوْا: تَكْفُوْنَا الْمَؤُونَةَ وَ تُشْرِكْكُمْ فِي الثَّمْرَةِ, قَالُوْا: سَمِعْنَا وَ أَطَعْنَا.

“Berkata orang-orang anshar kepada nabi , ‘Bagilah kurma antara kami dan saudara-saudara kami.’ Beliau berkata, ‘Tidak.’ Maka sebagian mereka berkata, ‘Cukupilah pembiayaan untuk kami, dan kita berserikat dengan kalian pada buahnya.’ Sebagian yang lain menjawab, ‘Kami mendengar dan patuh.”

Untuk menjelaskan hadits ini diantaranya adalah dengan mengetahui perkataan Imam Bukhari rohimahullohu ketika membawakan hadits ini. Beliau memasukan hadits tersebut dengan perkataannya:

بَابُ إِذَا قَالَ إِكْفِنِيْ مَؤُوْنَةَ النَّخْلِ أَوْ غَيْرِهِ وَ تُشَرِّكْنِيْ فِي الثَّمَرِ

“Bab jika seorang berkata, ‘Cukupilah untukku biaya perawatan pohon kurma atau yang selainnya dan berserikatlah denganku pada buah-buahnya (hasilnya).”

Dari perkataan beliau, dapat diketahui bolehnya menyuruh orang lain untuk memelihara tanaman kita kemudian hasilnya dibagi antara orang itu dengan kita dan inilah yang dinamakan musaqat.

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi menerangkan beberapa hukum yang berhubungan dengan musaqat sebagai berikut:

  1. Pohon kurma atau tanamannya harus diketahui ketika penandatanganan akad musaqat.

2.Bagian yang hendak diberikan kepada penggarap harus di ketahui seperi seperempat atau seperlima dari hasil pohon.

3.Penggarap harus mengerjakan segala apa saja yang dibuuhkan pohon (tanaman).

Pajak tanah dibayar oleh pemilik tanah karena berkaitan dengan pokok harta, sedang zakat harus dibayar oleh penggarap atau pemilik tanah apabila mencapai nishob karena zakat berkaitan dengan buah yang dihasilkan tanah.

Daftar Isi : Ensiklopedi Muslim, Taisirul ‘Alam, Subulus Salam dan Shahihul Bukhari.

(BERSAMBUNG)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: