Skip to content

37. DUNIA ADALAH LAHAN AMAL

27 Oktober 2007

Di antara pelajaran yang kita bisa ambil dari pertanian adalah bahwa kehidupan dunia adalah seperti halnya ladang pertanian. Semua orang yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini pada hakekatnya sedang menanam, yaitu menanam amal kebaikan dan ketaatan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Dan sesungguhnya waktu pemanenan amalnya itu akan dilakukan pada hari kiamat yaitu pada hari perhitungan amal. Maka tak salah sebagian orang mengatakan bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal.

Alloh menyebutkan dalam Al-Quran tentang orang-orang yang sedang menanam amal kebaikan itu ada yang bisa memanennya dan ada yang tidak bisa memanennya. Alloh subhanahu wa ta’ala menjelaskankannya dengan memisalkan dengan pertanian sebagaimana akan disebutkan berikut ini.

Yang pertama adalah orang yang bisa memanen amalnya itu di akherat, siapakah mereka?, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir: seratus biji, Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas (karunia)-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Ayat ini berbicara tentang amal seorang muslim akan dilipat gandakan dari sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat bahkan bisa lebih dari itu. Menjadi seorang muslim adalah suatu keberuntungan karena amalnya akan dilipat gandakan. Dan amal-amal kebaikan yang dilakukan seorang muslim akan dilipat gandakan sesuai dengan jenis amal maupun tingkat keikhlasannya.

Berkata Ibnu Katsir rohimahullohdalam tafsirnya, “Ini merupakan perumpamaan yang diberikan Alloh subhanahu wa ta’ala mengenai pelipat gandaan pahala bagi orang-orang yang menafkahkan harta kekayaannya di jalan-Nya dengan tujuan untuk mencari keridhaan Alloh subhanahu wa ta’ala. dan bahwasanya kebaikan itu dilipat gandakan mulai dari sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Di mana Dia berfirman, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh.” Sa’id bin Jubair mengatakan, ‘Yaitu dalam rangka menaati Alloh subhanahu wa ta’ala.

Perumpamaan ini lebih menyentuh jiwa daripada penyebutan bilangan 700 kali lipat, karena perumpamaan tersebut mengandung makna bahwa pahala amal shalih itu dikembangkan Alloh subhanahu wa ta’ala bagi para pelakunya, sebagaimana tumbuh-tumbuhan, tumbuh subur bagi orang yang menanamnya di tanah yang subur.

Dan firman-Nya disini, Alloh melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki’ maksudnya sesuai dengan keikhlasan orang itu beramal. ‘Dan Alloh maha luas (karunia-Nya) lagi maha Mengetahui’ maksudnya, karunia Alloh subhanahu wa ta’ala itu sangat luas dan sangat banyak bahkan lebih banyak dari mahluk-Nya dan Dia Maha Mengetahui terhadap siapa-siapa yang tidak berhak dan siapa-siapa yang berhak mendapatkannya. Maha Suci Alloh, Maha Suci Dia dan segala puji bagi-Nya.[1]

Perhatikanlah, misalnya dalam pertanian, seorang akan menanam padi, dia misalkan menabur sebutir benih padi, kemudian benih itu berkecambah dan tumbuh menjadi tanaman padi yang muda. Dalam pertumbuhannya tanaman padi itu beranak pinak karena suburnya sehingga menjadi tujuh batang tanaman padi. Pada pertumbuhan selanjutnya tanaman padi itu berbunga dan mengeluarkan tujuh bulir (tangkai) dan dalam satu bulir tersebut terdapat seratus bunga, kemudian bunga-bunga padi itu dibuahi dan menjadi biji padi yang baik. Begitulah petani itu mendapat 700 biji padi dari sebutir benih padi. Demikian juga seorang muslim bila melakukan amal shalih maka dia akan memanen bisa sampai 700 ganjaran di akherat kelak. Ini adalah hal yang sangat menguntungkan maka hendaknya sebagai seorang muslim kita bersemangat menanam amal ketaatan dan amal ibadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala karena hasil yang akan kita panen akan melimpah ruah dam berlipat ganda.

Sementara orang-orang yang tidak bisa memanen amalnya, Mereka adalah orang kafir (non-muslim), mereka tidak bisa memanen amal-amal kebaikan mereka di akherat kelak. Karena amal-amal mereka rusak sebagaimana tanaman-tanaman yang rusak. Mengapa amal kebaikan mereka rusak, jelas karena mereka kafir terhadap Alloh subhanahu wa ta’ala, mereka tidak mentauhidkan Alloh subhanahu wa ta’ala, dan juga mereka beramal tidak sesuai dengan petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Segala jerih payah mereka tidak berharga, sia-sia seperti halnya tanaman yang telah rusak maka tidak bisa dipanen hasilnya, padahal mereka sangat membutuhkan hasil panennya pada hari itu. Yaitu pada hari perhitungan amal, mereka adalah orang-orang yang merugi.

Alloh subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang amal-amal orang kafir dengan firman-Nya:

Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Alloh tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.” (QS. Ali Imran : 117)

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, “Kemudian Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan bagi apa yang dibelanjakan oleh orang kafir di kehidupan dunia ini. Demikian dikatakan oleh Mujahid, Hasan Al Bashri dan As Suddi, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, Perumpamaan bagi apa yang dibelanjakan orang kafir di dalam kehidupan dunia ini adalah seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin.’ Yakni angin yang disertai hawa yang sangat dingin sekali. Demikian juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Adh Dhahhak, Rabi’ bin Anas dan yang lainnya.

Kemudian Ibnu Katsir rohimahullohmelanjutkan, ‘Yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya.’ Maksudnya, angin tersebut dapat memusnahkan jika menimpa tanaman yang sudah sa’atnya dipanen. Angin itu memporak-porandakan dan memusnahkan buah-buahhan dan tanaman yang ada di dalamnya, padahal si pemiliknya justru sangat membutuhkan hasil panennnya.

Demikian juga dengan orang kafir, Alloh subhanahu wa ta’ala akan menghapus pahala dan buah semua amalnya selama di dunia, sebagaimana musnahnya tanaman itu akibat dosa-dosa para pemiliknya. Dan orang-orang kafir membangun amal mereka itu tanpa ada pondasi, tidak pula ada asasnya. Dan Alloh tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.’ [2]

Dari dua ayat diatas terdapat penjelasan bahwasanya beruntunglah seorang yang memeluk agama islam karena dia akan bisa memanen amalnya di akherat dan merugilah orang-orang selain umat islam karena amal mereka tidak bisa dipanen. Padahal pada saat itu-hari kiamat- sangat diperlukan hasil panen yaitu amal-amal shalih, yang merupakan modal untuk mendapatkan rahmat Alloh subhanahu wa ta’ala sehingga bisa selamat dari siksa neraka dan masuk kedalam surga. Ya Alloh! Jadikanlah kami orang-orang yang bisa memanen amal-amal kami, dan matikanlah kami dalam keadaan sebagai seorang muslim.


[1] Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1, Juz 3, hal. 526-527.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2 Juz 4 hal. 120.

5 Komentar leave one →
  1. 27 Oktober 2007 10:29 am

    setip tanaman yg ditanam pasti ada rumput yg menyertainya,artinya setiap amal kebaikan yg kita lakukan akan ada rintangan/hambatan yg menghalangi…………maka bersabarlah .

  2. 12 Maret 2009 5:33 pm

    diduniapun menanam dapat dilihat dan dirasakan hasilnya, dari mana?.. tentu dari buahnya. Karena hanya dari buahnyalah orang lain akan merasakan, asal usul bibit yang baik atau tidak baik dari buahnyalah akan diketahui…bibit yang baik tidak dihasilkan dari predikat orang beragama atau non agama, kaya atau miskin, karena bibit tersebut dari kalbu yang tidak terlihat, Allah yang empuNya…

  3. 12 Maret 2009 5:39 pm

    setiap tanaman memiliki arti bagi kehidupan lainya, secara nyata didalamnya juga bersarang banyak penyakit dan hama walaupun tanaman tersebut baik adanya…karena dari Allahlah sistem tersebut ada…semakin merasakan makna alam tersebut, ternyata hidup manusia yang seringkali merasa baik, juga harus mampu bersanding dengan yang dianggap “buruk” …bila tidak kapan disebut tanaman yang berarti

  4. 12 Maret 2009 5:43 pm

    akan lebih baik menanam juga memelihara, karena bila diyakini akan berbuah…memilihara tanaman bak memelihara hubungan sesama, apabila memelihara dengan tulus akan dipetik hasil yang mulus dan sebaliknya…sudahkan memelihara…

  5. 12 Maret 2009 5:51 pm

    tanaman tidak akan bisa tumbuh tanpa dimulai dari benih, benih tidak akan bisa ada bila sumber pohonnya tidak ada (baik buah, akar, abatang dll) dari pohonya kita bisa belajar cara menanam benih, apakah hidup diair, di rawa, di batu, tanah tandus, dll. Berbuat baik tentu harus iklas, dari etika berbuat, orang akan tau cara dan hasilnya tanaman tersebut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: