Skip to content

39. BILA HASIL PANEN ITU, PENUH BERKAH

4 April 2010


Pendahuluan

Para petani ketika menanam tanamannya tentunya menginginkan bila kelak tanamannya tersebut akan tumbuh subur, dan bisa dipanen dengan hasil yang melimpah ruah. Sehingga petani tersebut bisa mendapat keuntungan yang banyak dan terhindar dari kerugian.

Tidak ada petani yang menghendaki gagal panen, tanaman padinya mengalami puso dll.

Tapi adakah petani yang menghendaki hasil panennya diberkahi oleh Alloh azza wa jalla? Adakah petani yang mendapakan hasil pertaniannya merupakan rezeki yang penuh berkah dari Alloh subhanahu wa ta’alla?

Tentu sebagai seorang muslim, hendaknya petani memohon kepada Alloh rezeki yang berkah baik lewat hasil panen dari usaha pertaniannya maupun dari rezaki yang lainnya.

Contoh Hasil Panen yang Berkah

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang berbagai kejadian yang mendahului terjdinya hari qiyamat, beliau bersabda:

“Akan diperintahkan (oleh Allah) kepada bumi: tumbuhkanlah buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu, maka pada masa itu, sekelompok orang akan merasa cukup (menjadi kenyang) dengan memakan satu buah delima, dan mereka dapat berteduh dibawah kulitnya. Dan air susu diberkahi, sampai-sampai sekali peras seekor onta dapat mencukupi banyak orang, dan sekali peras susu seekor sapi dapat mencukupi manusia satu kabilah, dan sekali peras, susu seekor domba dapat mencukupi satu cabang kabilah.” (Riwayat Imam Muslim)

Demikianlah ketika rizqi diberkahi Allah, sehingga rizqi yang sedikit jumlahnya, akan tetapi kemanfaatannya sangat banyak, sampai-sampai satu buah delima dapat mengenyangkan segerombol orang, dan susu hasil perasan seekor sapi dapat mencukupi kebutuhan orang satu kabilah.

Ibnul Qayyim berkata: “Tidaklah kelapangan rizqi dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi kelapangan rizqi dan umur diukur dengan keberkahannya.” [Al Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim 56.)

Bila ada yang berkata: Itukan kelak tatkala kiyamat telah dekat, sehingga tidak mengherankan, kerana saat itu, banyak terjadi kejadian yang luar biasa, sehingga apa yang disebutkan pada hadits ini adalah sebagian dari hal-hal tersebut.

Ucapan ini tidak sepenuhnya benar, sebab hal yang serupa –walau tidak sebesar yang disebutkan pada hadits ini- juga pernah terjadi sebelum zaman kita, yaitu pada masa-masa keemasan umat Islam.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: ”Sungguh dahulu biji-bijian, baik gandum atau lainnya lebih besar dibanding yang ada sekarang, sebagaimana keberkahan yang ada padanya (biji-bijian kala itu-pen) lebih banyak. Imam Ahmad telah meriwayatkan melalui jalur sanadnya, bahwa telah ditemukan di gudang sebagian khalifah Bani Umawiyyah sekantung gandum yang biji-bijinya sebesar biji kurma, dan bertuliskan pada kantung luarnya: “Ini adalah gandum hasil panenan masa keadilan ditegakkan.” (Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim 4/363 & Musnad Imam Ahmad bin Hambal 2/296.)

Bagaimana Dengan Hasil Panen Para Petani Sekarang?

Setelah kita membaca hadits di atas dan penjelasan dari Al-Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh tentunya kita merasakan perbedaan yang pada hasil panen zaman sekarang dengan pada zaman masa kejayaan islam dan pada zaman menjelang hari kiamat.

Kita tentu mengetahui hasil panen para petani zaman sekarang, misalkan saja padi atau gandum zaman kecil-kecil dan meskipun ada yang varietas unggul tetap saja tidak terlalu signifikan. Kita membutuhkan beratus-ratus atau bahkan ribuan beras dalam sepiring nasi yang kita makan. Dengan jumlah yang banyak seperti itu juga ada diantara kita masih saja belum kenyang.

Satu buah delima zaman sekarang juga kalau dimakan oleh seorang  juga tidak bisa mengenyangkannya.

Terkadang hasil panen melimpah ruah, namun tidak mencukupi biaya kehidupan sehari-hari. Ada apakah ini?

Apalagi pada zaman sekarang , dimana fitnah dunia begitu kuat mendera manusia. Manusia tidak memperdulikan halal dan haram ketika bekerja. Keserakahan dan ketamakan manusia dalam mengambil sumber daya alam telah terjadi dimana-mana. Sehingga bukan keberkahan yang didapat tetapi adzab dan bencana yang diperoleh.

Sebuah Bukti Ketika Keberkahan Tercabut Akibat Keserakahan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa itu semua terjadi akibat perbuatan dosa umat manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seandainya kalau bukan karena ulah Bani Isra’il, niscaya makanan tidak akan pernah basi dan daging tidak akan pernah membusuk.” (Muttafaqun ‘alaih)

Para ulama’ menjelaskan bahwa tatkala Bani Isra’il diberi rizqi oleh Allah Ta’ala berupa burung-burung salwa (semacam burung puyuh) yang datang dan dapat mereka tangkap dengan mudah setiap pagi hari, mereka dilarang untuk menyimpan daging-daging burung tersebut. Setiap pagi hari, mereka hanya dibenarkan untuk mengambil daging yang akan mereka makan pada hari tersebut. Akan tetapi mereka melanggar perintah ini, dam mengambil daging dalam jumlah yang melebihi kebutuhan mereka pada hari tersebut, dan kemudian mereka simpan. Akibat perbuatan mereka ini, Allah menghukumi mereka, sehingga daging-daging yang mereka simpan tersebut menjadi busuk. ([12] ) Ma’alim At Tanzil, oleh Al Baghawy 1/97, Syarah Shahih Muslim oleh Imam An Nawawi 10/59, & Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 6/411)

Al Munawi berkata: “Hadits ini adalah suatu isyarat yang menunjukkan bahwa membusuknya daging merupakan hukuman atas bani Israil, akibat mereka kufur terhadap kenikmatan Allah. Yaitu tatkala mereka menyimpan daging burung puyuh, sehingga menjadi busuk, padahal Allah telah melarang mereka dari hal itu, dan sebelum kejadian itu, daging tidak pernah membusuk.”(Faidhul Qadir 5/437. )

Untuk lebih detailnya bagaimana cara mendapatkan rezeki yang diberkahi, silahkan baca disini.

3 Komentar leave one →
  1. 11 Juni 2010 9:10 am

    informasi yg sngt bermanfaat, sngt membantu

  2. Aisyah Azzahra permalink
    25 Juli 2010 2:37 pm

    Allahuakbar.. bergetar hati saya membaca tulisan ini. Sering-sering nulis ya. Biar semakin bertambah ilmu kita.

  3. hikayunda permalink
    14 Februari 2011 12:43 am

    kalau dalam bahasa sehari-hari:
    DIBERI HATI MINTA AMPELA atau mirip DIBERI KAKI MINTA PAHA
    jadi,
    keinginannya menutupi kecukupannya (tidak bersyukur),
    nafsunya menutupi kemampuannya (tidak tahu diri),
    kerakusannya menutupi kewajarannya (pelit, riba, takut esok nggak makan dan numpuk harta walaupun orang disekitarnya susah … macem GAYUS CS, he he he).

    Mohon ampun ya Allah ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: