Skip to content

27. KOMODITAS PERTANIAN YANG TERMASUK BARANG RIBAWI

17 Juni 2010

PENDAHULUAN

Pada zaman barter dahulu sebelum manusia mengenal uang maka jual beli dilakukan dengan cara barter.  Misal orang daratan yang mempunyai komoditas pertanian membarter hasil panennya dengan garam dan ikan yang dimiliki para nelayan. Atau pun petani pegunungan yang mempunyai hasil panen berupa sayuran melakukan barter dengan petani dataran rendah yang mempunyai beras dan kelapa.

Hukum barter seperti ini diperbolehkan dalam islam. Selagi jenis komoditasnya berbeda maka perbedaan jumlah berat maupun takaran tidaklah menjadi masalah. Namun apabila barter yang dilakukan dengan komoditas yang sejenis maka harus dilakukan secara tunai dan jumlahnya sama. Jika tidak, maka akan menjadi riba.

Misalkan seorang membarter antara beras “pandan wangi” dengan beras bulog atau beras raskin maka jumlah atau takarannya harus sama walaupun beras “pandan wangi” kualitasnya bagus dan beras raskin kualitasnya rendah. Kalau berbeda takarannya maka menjadi riba.

TEKS HADITS

Dalam hadits disebutkan bahwa:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silahkan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587)

Para ulama telah menyepakati bahwa ke-6 komoditas dalam hadits di atas yaitu emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk barang ribawi. Sehingga enam komoditas tersebut boleh diperjualbelikan dengan cara barter asalkan memenuhi syarat. Bila barter dilakukan antara komoditas yang sama -misalnya kurma dengan kurma, emas dengan emas, gandum dengan gandum-, maka akad tersebut harus memenuhi dua persyaratan.

Persyaratan pertama, transaksi harus dilakukan secara kontan (tunai). Sehingga penyerahan barang yang dibarterkan harus dilakukan pada saat terjadi akad transaksi dan tidak boleh ditunda seusai akad atau setelah kedua belah pihak yang mengadakan akad barter berpisah, walaupun hanya sejenak.

Persyaratan kedua, barang yang menjadi objek barter harus sama jumlah dan takarannya, walaupun terjadi perbedaan mutu antara kedua barang.

SEBAB MENJADI BARANG RIBA

Apa Illat (sebab) Yang Menjadikan barang  Ribawi.  Apakah riba hanya berlaku pada enam komoditas ribawi yaitu emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam tersebut  atau bisa juga berlaku pada komoditas yang lain?

Menurut Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’ Beliau berkata: “Alasan berlakunya riba pada emas dan perak yaitu karena keduanya adalah emas dan perak, baik sebagai alat untuk jual beli atau pun bukan. Dalil bahwa barter emas dan perak menjadi riba meskipun bukan untuk alat jual beli adalah hadits Al-Qilaadah (kalung) yang diriwayatkan Fadholah bin ‘Ubaid,”Bahwa beliau membeli kalung yang terdapat emas dan perak dengan harga 12 dinar. Kemudian beliau memisahkannya dan mendapati nilai yang lebih mahal (setelah dipisahkan). Maka nabi صلى الله عليه وسلم melarang menjual kalung tersebut hingga dipisahkan.  Adapun ‘illat pada gandum, sya’ir, kurma dan garam kerena merupakan bahan makanan yang ditakar yaitu illatnya ada dua hal (takaran dan makanan). Dan ini lebih jelas pada contoh: jika seorang membarter satu sho’ tepung dengan dua sho’ tepung  maka  boleh kita katakan illatnya  tepung itu adalah barang yang ditakar dan bahan makanan, boleh juga kita katakan illatnya bahan makan, atau boleh juga illatnya barang yang ditakar. Contoh lain jika seorang membarter buah-buhan dengan jenis yang sama namun dengan kuantitas yang berbeda, jika kita katakan illatnya bahan makanan  maka tidak boleh, jika kita katakan illatnya barang yang ditakar boleh atau jika kita katakan illatnya barang yang ditakar dan bahan makanan boleh”.

KOMODITAS PERTANIAN

2 Komentar leave one →
  1. 28 Juni 2010 12:25 pm

    subhanallah…
    memang hukum islam dalam mengatur kehidupan di dunia ini merupakan aturan” Allah yang tujuannya memang untuk memeberikan yang terbaik untuk umat muslim sendiri…

  2. 2 Agustus 2010 11:53 am

    by jabon :
    terimakasih saya menjadi lebih tahu soal ini ….
    salam kenal jabon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: