Skip to content

18. OBROLAN MALAM PERTAMA PENGANTIN BARU

21 April 2011

Pernikahan Nayilah Binti Al-Farafishah

Tamadhur, istri Abdurrahman bin Auf bercerita, Saya berkata kepada Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, “Apakah Anda punya keinginan dengan putri paman saya; perawan, cantik, berpostur padat, pipi lembut, dan cerdas, untuk kamu nikahi?”

Dia menjawab, “Ya.”

Dia pun menunjukinya kepada Nayilah binti al-Farafishah al-Kalbiyah. Al-Farafishah al-Kalbi ketika itu masih beragama Nasrani, demikian pula anaknya. Hanya saja, ia memiliki saudara laki-laki yang telah masuk Islam. Maka Utsman pun melamarnya melaluinya, dan ia dinikahkan oleh saudaranya itu.

Nayilah kemudian dibawa kepadanya dari negeri Kalb -yaitu negeri Samawah yang terletak antara Doha dan Syam- hingga ia sampai ke Madinah. Tatkala ia masuk ke kamar Utsman, ia menemukan dua buah ranjang di dalam kamar. Ia duduk di salah satunya, sementara Utsman duduk di atas yang lain.

Utsman melepas pecinya hingga terlihat botak kepalanya seraya berkata, ‘Barangkali kamu tidak menyukai ubanku yang kamu lihat ini?’

Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Jangan sampai menjadikanmu gundah botakku yang kamu lihat, karena di balik itu terdapat apa yang kamu cintai’.”

Naylah berkata -dan lihatlah apa yang dikatakannya, “Demi Allah, sungguh, aku termasuk wanita yang mengidamkan suami dalam fase kuhulah (usia 30-50).”

Utsman berkata, “Aku telah melewati fase kuhulah, aku adalah kakek tua jompo.”
Nayilah berkata, “Masa mudamu telah kamu habiskan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada sebaik-baik hal yang dihabiskan masa muda.”

Kemudian Utsman berkata kepadanya, “Engkau yang datang kepada saya, ataukah saya yang mendatangimu?”

Ia menjawab, “Tidaklah aku datang dari negeri Samawah lalu aku akan bersikap pelit untuk beralih kepadamu. Bahkan, aku yang datang kepadamu.”

Diposting oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim, di nukil dari, “90 Kisah Malam Pertama” karya Abdul Muththalib Hamd Utsman, edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq Jakarta

sumber http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatkisah&id=246

Subhanallah sebuah kisah yang sangat menakjubkan dan banyak pelajaran yang bisa diambil, di antaranya:

1. Membantu mencarikan istri atau suami untuk sesama muslim adalah perbuatan yang mulia, sebuah bentuk tolong menolong dalam perbuatan yang baik dan taqwa. Inilah yang dilakukan oleh Tamadhur, istri Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.

2. Para wanita pada zaman sahabat mendukung poligami, lihat buktinya Tamadhur, istri Abdurrahman bin Auf yang menawarkan calon istri kepada Utsman radhiyallahu anhu padahal Tamadhur mengetahui kalau beliau sudah mempunyai istri. Begitu juga Nayilah yang mau dipoligami.

3. Ada wanita yang menyukai pria yang lebih tua dan lebih dewasa. Simak lah perkataan Nayilah “Demi Allah, sungguh, aku termasuk wanita yang mengidamkan suami dalam fase kuhulah (usia 30-50).”.

4. Kebaikan agama calon suami adalah prioritas utama dibandingkan kebaikan fisik, simak perkataan Nayilah : “Masa mudamu telah kamu habiskan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada sebaik-baik hal yang dihabiskan masa muda.”

5. ..

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: